Pages

Stop Exploitasi Hutan Indonesia!

Senin, 14 Januari 2013

Sejarah Konflik di Bosnia


            
Wilayah Bosnia yang terletak di jantung dari Federasi Yugoslavia, yang menjadi daerah perebutan pengaruh sejak zaman Kerajaan Austro-Hungaria melawan pengaruh Kerajaan Turki pada saat Kekaisaran “Ottoman”. Bubarnya Yugoslavia lama, tampaknya oleh negara-negara sekitarnya maupun dari negara-negara Big Power/luar menginginkan agar “Yugoslavia mini” ini ikut bubar. Adanya pemerintahan yang diatur bergilir oleh tiga etnis dominant di Bosnia (Muslim, Serbia dan Kroat), ikut menambah kerawanan negeri ini, karena pengaruh pada salah satu etnis dari negara tetangga ataupun dari luar, dapat segera membakar kearah pertikaian.
            Penguasaan Bosnia secara bulat oleh Republik-Republik di sekitarnya ataupun menjadi suatu negara yang berdasarkan konstitusi Islam, akan dipandang cukup membahayakan negara-negara Eropa. Dilihat dari segi Sosial Budaya maka keberadaan tiga etnis dominan yang terdiri dari 3 suku yang berbasis pada agama yang berbeda, setelah kesadaran beragama mulai terusik sedangkan UUD-nya tidak mengatur tentang kerukunan hidup beragama karena tidak adanya suatu idiologi yang mengikat kesadaran berbangsa, maka perbedaan di antara penduduk semakin tajam. Perbedaan ini menjadi bertambah berbahaya ketika pimpinan politik dan pengaruh luar ikut mengeksploitir kekuasaan berdasarkan etnis dan agama ini.
            Pada saat Tito berkuasa, mereka dipersatukan oleh kepemimpinan Tito yang kharismatik, program “Unity and Brotherhood” yang cukup baik sehingga wilayah ini menjadi sangat potensial bagi keberadaan Yugoslavia pada waktu itu. Dari kacamata ekonomi, kekayaan alam dan bahan tambang yang dikandung dalam wilayah Bosnia Herzegovina, merupakan daya tarik lainnya bagi siapa yang menguasai wilayah ini. Hampir 80% medan gunung-gunung dengan sungai yang berjeram merupakan daerah yang menguntungkan bagi penyediaan listrik tenaga air (Hydropower plant). Demikian juga kekayaan akan tambang bauxit, magnesium, asbes, dalomit, batubara, minyak, lignite, garam dan lain-lain, merupakan tambang yang potensial bagi berjalannya industrialisasi. Sewaktu Tito berkuasa, wilayah ini kemudian menjadi pilihan ditempatkannya lebih dari 60% pabrik-pabrik Yugoslavia.
            Oleh sebab itu Bosnia Herzegovina merupakan mesin utama bagi jalannya perindustrian Yugoslavia. Daerah-daerah industri yang ada di Bosnia Herzegovina di antaranya ialah Pabrik senjata artileri dan mortir di Novitravnik, Pabrik tank/kendaraan lapis baja di Bosanki Brod, Oil Refinery di Slavonski Brod, Pabrik aluminium dan pesawat terbang di Mostar, Pabrik bahan kimia di Sabac dan Tuzla, Pabrik senjata ringan “Pretis” di Vogasca (dekat Sarajevo), Pabrik senjata dan munisi “Igman” di Konjic, Pabrik kimia, mesin, ranjau, tambang batubara dan lignite di Tuzla, Pabrik besi dan baja di Zenica, Pabrik minyak roket, bahan ledak, bubuk mesiu di Vitez, Pabrik munisi di Gorazde, Pabrik battery di Luskovac, Pabrik perlengkapan militer di Foca dan Capljina dan lain-lain. Kota dimana pabrik-pabrik serta wilayah tambang tersebut di atas pada umumnya di dalam kekuasaan etnis Muslim dan etnis Kroat, sehingga saat itu merupakan daerah perebutan kekuasaan (trouble spot). Beberapa di antaranya dilindungi oleh PBB/UNPROFOR untuk mencegah penghancuran daerah-daerah krisis tersebut.
            Dari pandangan Strategi Militer, keberadaan pabrik-pabrik bagi keperluan militer yang lebih dari 60% berada di wilayah Bosnia Herzegovina merupakan daya tarik utama akan penguasaan wilayah ini. Pada masa Tito berkuasa, dengan pertimbangan keamanan, dan perlindungan alam yang baik maka Bosnia Herzegovina dipilih untuk kedudukan wilayah industri militer, karena dipandang aman dari ancaman Pakta Warsawa maupun Pakta NATO. Ditinjau dari segi etnis, bahasa dan sosial budaya, Yugoslavia sebagai negara “sosialis self-management” merupakan tujuan utama bagi ahli-ahli / para teknokrat eks Pakta Warsawa untuk keluar dari Uni Soviet. Tidak mustahil bila mereka berhasil masuk ke Yugoslavia dalam keadaan bersatu, maka Yugoslavia akan dapat menjadi negara super power di bidang pertahanan dan keamanan dikemudian hari.
            Dengan terpusatnya industri militer Yugoslavia berada di Bosnia Herzegovina, maka ahli-ahli tersebut dikhawatirkan akan berada di wilayah ini. Untuk mencegah hal tersebut negara-negara “Big Power” terutama dari Blok Barat, tentunya menjadikan wilayah Bosnia Herzegovina sebagai wilayah kepentingannya. Di sisi lain dengan bubarnya Pakta Warsawa maka Eropa dikhawatirkan akan kebanjiran stock senjata eks Blok Timur, yang akan bermuara pada meningkatnya organisasi senjata secara liar di Eropa dan selanjutnya akan membahayakan keamanan Eropa. Dengan adanya perang Bosnia maka aliran senjata lebih tersebut secara tidak langsung akan mengarah ke wilayah ini. Dengan menumpuknya beberapa kepentingan di wilayah Bosnia Herzegovina maka wilayah ini layak untuk disebut daerah rawan atau titik kritis bagi negara-negara di Eropa.
READ MORE >>

Empat Tentara Serbia Pembantai 800 Muslim Bosnia


BOSNIA - Empat mantan tentara Serbia Bosnia dijatuhi hukuman penjara hingga total 142 tahun pada hari Jumat untuk peran mereka dalam eksekusi massal ratusan Muslim Bosnia dari Srebrenica selama pembantaian terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II. Pembunuhan sekitar 800 orang, termasuk anak-anak tersebut, yang terjadi di sebuah peternakan adalah bagian dari pembantaian sistematis terhadap 8.000 pria dan pemuda Muslim setelah pasukan Serbia Bosnia menduduki daerah kantong yang dilindungi PBB pada bulan Juli 1995. Hukuman penjara yang diberikan kepada empat tentara atas kejahatan terhadap kemanusiaan tersebut adalah terpanjang yang pernah dijatuhkan oleh pengadilan kejahatan perang Bosnia.

"Pada tanggal 16 Juli 1995, mereka mengeksekusi sewenang sekitar 800 warga sipil laki-laki, di antaranya ada yang berusia di bawah 16 tahun dan beberapa lebih dari 80 tahun, dari jam 10 pagi sampai jam 4 sore di peternakan Branjevo," kata hakim Mira Smajlovic, membaca putusan . Stanko Kojic dipenjara selama 43 tahun, Kos Franc dan Zoran Goronja masing-masing selama 40 tahun dan Vlastimir Golijan selama 19 tahun karena dia berusia di bawah 21 tahun pada saat itu.

..Pada tanggal 16 Juli 1995, mereka mengeksekusi sewenang sekitar 800 warga sipil laki-laki, di antaranya ada yang berusia di bawah 16 tahun dan beberapa lebih dari 80 tahun, dari jam 10 pagi sampai jam 4 sore di peternakan Branjevo..

  Kempat orang tersebut semuanya menembaki para korban mereka tetapi hakim mengatakan Kojic telah melakukan pembantaian secara kejam dari yang lain dan kemudian berbohong tentang jumlah orang-orang yang telah dibunuhnya. Orang-orang tersebut bertugas di unit komando 10 tentara Serbia Bosnia. Franc Kos memimpin Peleton pertama unit Bijeljina, dan tiga lainnya adalah tentara reguler. Mereka dibebaskan dari tuduhan genosida "karena kurangnya bukti" tentang niat mereka untuk melakukan genosida. Pembantaian itu terjadi selama Perang Bosnia 1992-1995. Pasukan Serbia Bosnia, diperintahkan oleh Jenderal Ratko Mladic, menyerang Srebrenica dan memisahkan pria dan anak laki-laki dari perempuan. Banyak pria dan anak laki-laki mencoba melarikan diri melalui hutan, tetapi diburu, ditangkap dan dibantai di beberapa lokasi di dekat Srebrenica. Mladic sedang diadili di pengadilan kejahatan perang PBB di Den Haag atas tuduhan genosida atas Srebrenica dan pengepungan Sarajevo. Pengadilan Kejahatan Perang Bosnia sendiri telah memenjarakan puluhan mantan tentara Serbia Bosnia atas pembantaian Srebrenica.
















thx
voa-islam
READ MORE >>